Praktik Kerja Lapangan (PKL) merupakan kegiatan rutin tahunan STIS yang dilakukan oleh mahasiswa STIS di tingkat ketiga. PKL STIS Tahun Akademik 2017/2018 akan dilaksanakan oleh mahasiswa STIS Angkatan 57 di Bengkulu dengan mengusung tema :
"Kajian Kemiskinan dari Perspektif Pengeluaran dan Perilaku Menabung serta Determinannya"
TEMA
Tema Praktik Kerja Lapangan Politeknik Statistika STIS Tahun Akademik 2017/2018 adalah “Kajian Kemiskinan dari Perspektif Pengeluaran dan Perilaku Menabung serta Determinannya di Provinsi Bengkulu”. Adapun tema yang diangkat oleh Bidang KOR (Core/Inti) dalam rangka mendukung topik PKL tersebut adalah "Estimasi Pengeluaran dan Perilaku Menabung dengan Small Area Estimation (SAE)". Dalam bingkai tema tersebut, akan diteliti mengenai pola konsumsi dan menabung di Provinsi Bengkulu untuk menjawab tiga hal yaitu bagaimana cara memperoleh besaran konsumsi dan tabungan di Provinsi Bengkulu, bagaimana persebaran rumah tangga miskin dan tidak miskin di Provinsi Bengkulu dan bagaimana gambaran pola konsumsi dan perilaku menabung di Provinsi Bengkulu. Kemudian, bahasan yang lebih lanjut dan lebih mendalam akan dibahas dalam 5 Modul dengan tema dan bahasan yang berbeda yaitu Produktivitas dan Upah, Karakteristik Rumah Tangga Pertanian, Subjective and Multidimensional Poverty, Determinan Kemiskinan, dan Kapabilitas Individu Rumah Tangga Miskin.
Tema dalam Modul 1 adalah “Upah dan Produktivitas”. Pada lingkaran kemiskinan, produktivitas termasuk salah satu yang menyebabkan dan diakibatkan oleh kemiskinan. Indikator yang digunakan untuk mengkaji permasalahan tersebut yaitu konsumsi. Konsumsi dapat menjadi benchmark untuk melihat kemiskinan. Di sisi lain, konsumsi juga menjadi modal untuk dapat melakukan perilaku produktif. Konsumsi yang digunakan yaitu yang memberikan kepuasan saat ini serta meningkatkan potensi produktif dari tenaga kerja. Yang akan digunakan yaitu konsumsi terhadap nutrisi, kesehatan, dan pendidikan. Hal tersebut dapat disebut sebagai konsumsi produktif yang dapat menggambarkan produktivitas pekerja. Selain dari konsumsi produktif, produktivitas akan ditinjau melalui pendekatan produktivitas tenaga kerja tiap sektor. Kemudian dilihat pula persebaran produktivitas tenaga kerja tiap sektor untuk mengetahui kontribusi sektor atau lapangan usaha. Dari konsumsi produktif akan dilihat pengaruhnya terhadap produktivitas dan upah tenaga kerja. Tenaga kerja tersebut akan dianalisis secara makro untuk melihat produktivitas dari tenaga kerja dan secara mikro untuk melihat pertumbuhan ekonomi.
Tema dalam modul 2 adalah “Karakteristik Rumah Tangga Pertanian”. Hal ini diteliti karena rumah tangga pertanian merupakan segmen dalam rumah tangga yang memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi dibandingkan rumah tangga lainnya. Penelitian ditujukan untuk mengetahui karakteristik rumah tangga pertanian dalam dimensi sosial, ekonomi, dan demografi serta menganalisis pola konsumsi dan tabungan dari rumah tangga pertanian.
Tema dalam Modul 3 adalah “Subjective and Multidimensional Poverty”. Masalah utama yang akan diteliti oleh Modul 3 adalah mengukur kemiskinan dari sisi multidimensi dan subjektif. Untuk pengukuran kemiskinan multidimensi, dimensi yang digunakan adalah kesehatan, pendidikan, standar hidup, ketenagakerjaan, dan pemberdayaan. Sedangkan pengukuran kemiskinan subjektif melihat kemiskinan sebagai sebuah perasaan, sehingga untuk membuat sebuah ukuran kemiskinan perlu memerhatikan komponen psikologis individu. Komponen psikologis yang dimaksud adalah persepsi dari masyarakat tentang kondisi rumah tangganya sendiri, apakah seseorang hidup dalam rumah tangga yang memiliki pengeluaran per kapita di bawah garis kemiskinan, tidak membuat seseorang merasa miskin atau tidak miskin, bahkan ketika mereka berada pada level kesehatan tertentu.
Tema dalam Modul 4 adalah “Determinan Kemiskinan”. Kemiskinan merupakan permasalahan serius yang dihadapi seluruh negara di dunia. Fenomena kemiskinan ini memengaruhi berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat. Faktor-faktor yang memengaruhi kemiskinan kerap kali berbeda di setiap daerah karena adanya perbedaan karakteristik antardaerah. Tujuan yang ingin dicapai ialah mengetahui gambaran kemiskinan dan menganalisis faktor-faktor kemiskinan di kabupaten yang menjadi lokus penelitian.
Tema dalam Modul 5 adalah “Kapabilitas Individu Rumah Tangga Miskin”. Tema ini membicarakan tentang kemampuan individu di rumah tangga untuk keluar dari kemiskinan. Teori yang mendasari tentang tema ini adalah Teori Vicious Circle of Poverty. Di mana dikatakan keluarga miskin akan tetap miskin bahkan hingga 3 generasi. Lingkaran setan kemiskinan tersebut disebabkan dari beberapa dimensi, diantaranya pendidikan, kesehatan dan sosial. Dari dimensi-dimensi tersebut akan dibuat analisis dimensi apa yang membuat seseorang tidak mampu keluar dari kemiskinan sehingga diharapkan dapat menghasilkan solusi bagi pemerintah daerah setempat dalam memutus lingkaran setan kemiskinan tersebut.
LOKUS
Lokus penelitian yang diambil oleh Bidang KOR adalah seluruh kabupaten dan kecamatan terpilih di Provinsi Bengkulu. Sedangkan untuk Bidang Modul mengambil masing-masing 2 kabupaten/kota sebagai lokus penelitian.
Lokus penelitian yang diambil oleh Modul 1 adalah Kota Bengkulu dan Kabupaten Bengkulu Selatan. Pengambilan daerah tersebut dilatarbelakangi oleh persentase penduduk miskin di kedua daerah tersebut termasuk dalam lima tertinggi di Kota Bengkulu. Akan tetapi, produktivitas tenaga kerja di Kota Bengkulu tertinggi di Provinsi Bengkulu sedangkan prduktivitas di Bengkulu Selatan rendah. Hal tersebut anomali, ketika seharusnya produktivitas tinggi akan menyebabkan kemiskinan rendah, tetapi tidak demikian di Kota Bengkulu.
Lokus penelitian yang diambil oleh Modul 2 adalah Kabupaten Bengkulu Utara dan Kabupaten Seluma. Dua kabupaten ini dipilih karena memiliki potensi sektor pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di Provinsi Bengkulu. Potensi yang dimaksud adalah potensi ekonomi yakni sumbangan sektor tersebut terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang tinggi pada kedua kabupaten terpilih, dan potensi pekerja sekor pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan yang tinggi dibandingkan kabupaten/kota lain di Provinsi Bengkulu. Selain itu Kabupaten Bengkulu Utara dan Seluma merupakan dua kaupaten yang memiliki tingkat kemiskinan pada sektor pertanian yang tinggi. sehingga diharapkan dengan pemilihan daerah penelitian dari kedua daerah tersebut dapat menggambarkan kondisi rumah tangga pertanian yang dimiliki di Kabupaten Bengkulu Utara dan Kabupaten Seluma.
Lokus penelitian yang diambil oleh Modul 3 adalah Kabupaten Bengkulu Tengah dan Kabupaten Muko-muko. Kabupaten Bengkulu Tengah dengan ibukotanya adalah Karang Tinggi. Komoditi unggulan Kabupaten Bengkulu Tengah adalah sektor pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan dan jasa. Lokasi Kabupaten Muko-muko terletak di tengah-tengah jalan lintas Kota Padang dan Kota Bengkulu. Sektor pertanian yang meliputi tanaman pangan, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan menjadi tulang punggung perekonomian daerah ini. Dari hasil pertanian ini berdampak besar terhadap perdagangan.
Lokus penelitian yang diambil oleh Modul 4 adalah Kabupaten Kaur dan Kabupaten Rejang Lebong. Kabupaten Kaur merupakan wilayah paling selatan Provinsi Bengkulu, berbatasan langsung dengan Provinsi Lampung dan Provinsi Sumatera Selatan. Kabupaten Rejang Lebong terletak di lereng pegunungan Bukit Barisan dan berjarak 85 km dari kota Bengkulu yang merupakan ibukota provinsi. Kedua lokus ini dipilih karena memiliki permasalahan kemiskinan yang terbilang tinggi. Kabupaten Kaur merupakan kabupaten yang memiliki persentase penduduk miskin tertinggi di Bengkulu berdasarkan data Penduduk Miskin Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Bengkulu, 2015-2016 (Kondisi Maret), BPS Provinsi Bengkulu, yakni mencapai 22,36 persen. Angka ini berada jauh di atas persentase penduduk miskin Provinsi Bengkulu dan rata-rata nasional yang masing-masing persentasenya adalah 17,32 dan 10,86 persen. Fenomena serupa terjadi di Kabupaten Rejang Lebong, yang mana persentase penduduk miskin yang dimilikinya lebih tinggi daripada persentase Provinsi Bengkulu, yakni sebesar 17,81 persen.
Lokus penelitian yang diambil oleh Modul 5 adalah Kabupaten Kepahiang dan Kabupaten Lebong. Kepahiang dan Lebong merupakan daerah pemekaran. Dampak dari pemekaran tersebut ialah terdapat banyak masalah dalam kedua kabupaten tersebut, salah satu diantaranya adalah kepemilikan aset berupa lahan dan bangunan. Sering terjadi konflik mengenai tumpang tindih lahan, pencaplokan lahan dan status kepemilikan lahan maupun bangunan apakah lahan/bangunan tersebut milik kabupaten lama atau milik kabupaten baru. Selain itu, kesehatan dan pendidikan di kabupaten tersebut masih tergolong rendah. Walau sebagian besar masyarakat melek huruf, namun pendidikan tertinggi hanya di tingkat SD dan SMP. Selain itu, kesadaran untuk berobat juga rendah. Banyaknya masalah yang terjadi kemungkinan besar menjadi penyebab masih tingginya kemiskinan di Kabupaten Kepahiang dan Kabupaten Lebong.